Shalat Sunnah Berjamaah Sesuai Sunnah. "Mas Homo ya?"

Agustus 01, 2017
Eh buset dah. Kamu yang baca tulisan ini jangan mikir yang aneh-aneh dulu deh. Baca tulisan ini sampai habis baru boleh berkomentar. Judulnya Sholat Berjamaah Sesuai Sunnah. Oke sampai situ memang pasti sudah banyak yang menyukai tulisan ini, InsyaAllah.


Tapi pasti kamu bertanya-tanya kan kenapa harus ada tambahan dalam kurung segala? Mending kalau tulisan dalam kurungnya itu berhubungan dengan yang baik-baik...

Lah ini....

Berkaitan dengan homo....

Iya homo.

Homo dalam tulisan ini merujuk pada makna homoseksual yakni perbuatan yang mengarah pada aktivitas seksualitas sesama jenis (laki-laki dengan laki-laki).

Kamu pasti bertanya kan, apa korelasi antara sholat berjamaah dengan homo?

Apa mungkin penulis ini seorang homo yang ikut sholat berjamaah?

Masa iya sih orang yang sholat melakukan tindakan keji? Tentu ini mengingkari ayat Al-Qur’an yang berbunyi

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ 
وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-’Ankabut: 45)

Oke sekali lagi aku bilang, baca sampai habis baru berkomentar ya. Kebanyakan yang buka blog ini, baru baca setengah halaman langsung ditutup.

Sekarang aku akan mulai mengisahkan pengalaman yang bisa dibilang lucu, aneh bin ajaib, dan agak ngeselin. Jadi begini bro sis, waktu itu aku jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta. Nah, waktu itu waktu sholat Ashar berkumandang. Bergegaslah menuju masjid (ya masjid, bukan musholla).

Singkat cerita, dimulailah sholat berjamaah...

Dan tuduhan homo pun dimulai...

Seperti biasa, yang aku yakini bahwa kalau sholat berjamaah itu harus LURUS dan RAPAT saf. Lurus artinya tindak mencang sana mencong sini. Tengok kanan kiri dulu baru menyesuaikan. Oke sudah. Nah rapatkan saf ini, aku berusaha menempelkan bahu dan kaki agar menempel di kaki jamaah sebelah kanan dan kiri. Jamaah sebelah kiriku alhamdulillah mau diajak rapatkan bahu dan kaki. Aku berhuznudzon saja kalau orang disebelah kiriku sudah paham hadist berikut

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّى أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِى » . وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ

“Dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ”Luruskanlah shaf kalian, aku melihat kalian dari belakang punggungku.” Lantas salah seorang di antara kami melekatkan pundaknya pada pundak temannya, lalu kakinya pada kaki temannya.” (HR. Bukhari no. 725).
Nah, jamaah yang sebelah kanan ini....

Aku sudah bilang “Pak, saya rapatkan ya.”

Bapak itu mengangguk.

Oke. Saya tempelkan pinggir jari kakiku hingga pinggir telapak bagian belakang ke kaki bapak disebelah kananku. Pas imam bertakbir, kaki bapak tersebut menjauh. Aku tempel lagi dan menjauh.
Nah sudah dua kali bapak itu menjauh, aku biarkan saja karena kalau aku kejar nanti malah kayak kiper aja ngangkang gitu kakinya.

Rakaat kedua, terjadi hal yang sama. Ditempel dua kali dan menjauh.
Rakaat ketiga, terjadi hal yang sama.
Rakaat keempat, terjadi hal yang sama.

Daaaaannn....setelah selesai salam, tanpa tedeng aling-aling bapak itu langsung nengok ke wajahku dan berkata, “Mas homo ya?”

Respon clingak-clinguk pun aku tunjukkan. Aku pikir bapak itu bicara sama orang lain. Langsung saja bapak itu bilang, “Iya kamu mas. Mas homo?”

Aku jawab saja, “Yeuuhh pak, yakali homo ikutan sholat jamaah.”

Baru mau aku jelaskan lebih lanjut, bapak itu sudah beranjak pergi tanpa berdzikir. Mungkin beliau sedang ada urusan penting, pikirku begitu.

Ya jadi sih inti dari tulisan ini, jangan pernah mau belajar lebih banyak tentang agama dari apa yang belum kita tahu. Jangan pernah sombong jika dinasihati, karena yang boleh sombong itu cuma Allah doang. InsyaAllah penulis pun membuka hati buat menerima saran yang membangun kok.

Jazakumullah khairan katsir sudah mau membaca ceritaku kali ini.
Previous
Next Post »

3 komentar

  1. mungkin penulisnya homo..wkwkwkwkw

    BalasHapus
  2. wkwkwkkw..ada ada aja ya kang.. dia kuran berhusnudzon yaaa.. berprasangka buruk salah satu dosa besar ya kang.,. padahal niat kita baik tapi dinilai begitu.. gpp kang Allah maha tahu niat baik kita y kang

    BalasHapus

BangBot. Diberdayakan oleh Blogger.