Bagaimana Menjadi Ayah yang Baik?

Judul tulisan di blog gue kali ini memang agak sedikit membingungkan. Jujur, gue sendiri pun bingung mau menjawab dari sisi mana. “Baik” merupakan sebuah kata sifat yang merujuk bisa dalam berbagai aspek. Sekarang, “baik” yang seperti apa yang kiranya bisa melekat pada diri seorang ayah?

Begini, gue mulai cerita dulu aja sebagai awal pembuka artikel ini. Di usia gue yang menginjak 27 tahun ini,  Alhamdulillah gue udah dipercayakan sama Allah untuk menjadi seorang ayah. Januari 2021 nanti, genap satu tahun gue menyandang predikat seorang ayah bagi anak gadis gue. Bangga bukan kepalang. Penantian satu tahun setengah setelah menikah, merasa terbayar ketika tahu gue akan menjadi seorang ayah kala itu.

menjadi ayah yang baik
ilustrasi anak bermain dengan ayah kompas.com


Seiring berjalannya waktu, anak gue yang tumbuh di tengah pandemi COVID-19 ini secara ngga langsung mengajari gue banyak hal. Termasuk mengajari menjadi ayah yang baik untuk anaknya. Semenjak ada bayi mungil di tengah keluarga kecil gue, entah kenapa gue menjadi semangat buat bekerja, mencari uang untuk terjaminnya hidup si anak gadis yang mungil ini. 

Ada sisi lain dari seorang ayah yang bisa gue bilang ini sebagai tanggungjawab yang cukup besar. Selain menjamin kebutuhan hidupnya, seorang ayah juga bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada anaknya. Terlebih buat lo yang saat ini menjadi ayah dan tinggal satu rumah dengan orang tua (kakek atau nenek dari anak lo). Di sini mental seorang ayah benar-benar diuji. Gue sendiri merasakan hal itu dan tidak cuma sekali.

Baca Juga: UMKM Terdampak Pandemi, Bertahanlah!

Begini, ada perbedaan cara mendidik yang menurut gue cukup fundamental bagi perkembangan anak. Dan ini gue alami secara langsung. Contoh dalam hal bermain hujan-hujanan. Orang tua gue sangat saklek tidak memperkenankan anaknya terkena hujan. Kenapa? Bisa sakit. Dan terbukti, jika kena hujan terlalu lama, pasti masuk angin. Gue curiganya sih karena tersugesti kemudian imun membentuk pola daya tahan tubuhnya ya kalau kena hujan, pasti sakit.

Uniknya, istri gue ngga menerapkan apa yang ibu gue terapin ke gue. Istri gue hitungannya masih woles banget kalo anak gue kena rintik-rintik hujan. Alasannya biar terbiasa dan ngga takut air. Imunnya bakalan kuat kok. 

anak main hujan
ilustrasi anak main hujan (klikdokter.com)


Gue setuju, Tapi, kalau ketahuan ibu gue? Gue yang kena feedback, udah macem kerjaan kantor aja.

Ada hal lagi yang menurut gue lucu, tapi entah kenapa gue ngga bisa ketawa ngeliat hal lucu ini. Ada satu waktu gue ngejagain anak gue main di kamar. Saat itu anak gue usianya baru 11 bulan. Lagi latihan rembetan, sama ngoceh-ngocehnya. Satu waktu, anak gue yang udah bisa ngerangkak cepet ini, keseimbangan tangannya ngga terjaga.

Alhasil….

Jeduk…..

Jidatnya nyium tembok. Dan apa yang terjadi?

Yaps, perang Bharatayudha antara gue dan ibu gue pecah. Selalu, lagi, dan seterusnya mungkin sampai akhir zaman nanti, gue yang salah.

Lihatlah sekarang, apakah itu bisa dikategorikan bisa menjadi ayah yang baik?

Menurut gue, tidak. Masih jauh dari predikat “ayah yang baik” jika terjadi apa-apa padahal sebenarnya tidak ada masalah yang gawat, tapi tetap disalahkan. Ketika ada perbedaan cara mendidik yang diterapkan orang tua dengan nenek atau kakeknya belum menemui titik tengah, rasanya sulit menjadi ayah yang baik.

Bersyukurlah saat ini atas apa yang udah lo dapetin….

Posting Komentar

0 Komentar