Polemik Seputar Pembayaran Non-Tunai Ojek Online

September 28, 2017
Tulisan ini bukan membahas tentang boleh atau tidaknya menggunakan pembayaran non-tunai pada ojek online. Tujuan tulisan ini hanya berdakwah, karena penulis tidak punya kapabilitas dalam berdakwah secara lisan, lebih baik berdakwah melalui media sosial. Tapi, penulis yakin, apa pun tulisan yang saya tulis pasti ada yang nyinyit. Wajar lah, namanya juga manusia. So, mari kita bahas polemik ini.

Anda tahu, bahwa aplikasi aplikasi jasa pembayaran ojek online, terlebih yang berurusan dengan PERUT dibuat tanpa peduli halal haram?

Minimal tanpa konsultasi dengan ahli fiqih?
polemik go food, pembayaran non-tunai, polemik go-pay, gopay haram

Jadi harap maklumi para ahli fiqh bila kini mereka menyoal semua aplikasi di atas. Salah sendiri, bikin ndak bilang bilang dulu.

Anda penasaran mengapa semua itu dipermasalahkan?

Sederhana kok, pada praktek aplikasi itu ada celah besar dan pintu lebar terjadinya praktek riba. Anda berhutang dulu, lalu kalau pesanannya telah datang, anda bayar.

Atau anda menghutangi dulu (deposit) dulu, lalu dibelikan pesanan anda, dan karena anda telah deposit alias menghutangi dulu, maka anda mendapat harga special alias potongan harga, atau yang dalam istilah para ulama’ fiqih disebut dengan al muhabaah.

Dan jangan lupa anda juga harus beli jasa driver ojeknya.

Jadi pada setiap anda pesan maka terjadi dua akad:

Hutang piutang (talangan pembayaran)

Jual beli jasa.

Kedua akad ini saling bertautan, alias driver mau ngutangi karena mengharap jasanya laku, dan anda mau membeli jasanya karena anda dihutangi.

Alias hutang piutang yang semula berupa akad sosial kini menjadi banci alias setengah sosial setengah komersial atau bahkan malah telah beralih jenis menjadi komersial, dan inilah rahasia haramnya riba.

Akad semacam ini terlarang dalam hadits berikut:

لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ

“Tidak halal menggabungkan antara akad hutang piutang dengan akad jual beli” (HR. Ahmad, Abu Dawud dll)

Belum lagi bila ditinjau dari dampak perekonomian yang begitu mengerikan:
🚦  Mempercepat kapitalisasi ekonomi, mayoritas transaksi dikuasai segelintir orang.

🛵 Menyebabkan banyak UKM kelimpungan. Melipatgandakan kemalasan.

🚨  Mempercepat budaya buruk sistem ekonomi konvensional, yaitu belanja non tunai.

🚘  Melipatgandakan budaya konsumtif yang berlebihan.

🚒  Menyegerakan kematian pasar dan perdagangan tradisonal.

🚕 Dan masih banyak lagi dampak buruk yang dapat merusak masa depan perekonomian rakyat.

Sejak saat ini, katakan: selamat tinggal Go Food dan Go Pay, dan saatnya para suami berkata kepada istri masing-masing: lets go, we are shopping together, it’s better insyaAllah.

Wallahu Ta’ala A’alam bisshawab

Smoga bermanfaat dan membawa berkah.

🖌 Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA.
Previous
Next Post »
0 Komentar

BangBot. Diberdayakan oleh Blogger.